Entri yang Diunggulkan

Kahyangan Suralaya, Tempat Tinggal Para Dewa

Legenda adalah kisah tentang orang, kejadian, atau peristiwa yang dibuat berdasarkan fantasi dengan maksud untuk menimbulkan kekaguman...

Tampilkan postingan dengan label Peringatan Hari Bersejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Peringatan Hari Bersejarah. Tampilkan semua postingan

Senin, 17 April 2017

Mengenang Bulan Kartini : Peran Wanita Sebagai Soko Guru Peradaban




Andaikata Raden Ajeng Kartini yang lahir pada tanggal 21 April 1879  dan gemar baca koran masih hidup, nistaya dia akan langsung berkomentar, jika membaca berita seorang anak siswa klas X sebuah SMA Unggulan terkenal di Magelang, tega menggorok leher teman satu barak sampai tewas. Siapakah yang pantas dipersalahkan? Kepala Sekolah bisa jadi kecolongan. Tetapi siapa yang bisa mengendalikan masa lalu seorang anak, jika bukan keluarganya?

Kepala Sekolah tersebut dalam penjelasannya, menyebutkan, siswa pembunuh yang masih berusia remaja itu, ketika masih duduk di bangku SMP, gemar nonton film Rambo. Dia terobsesi oleh kepahlawanan Sang Rambo yang dengan sadis mampu dengan mudah membunuh lawannya dengan sebilah pisau. Dimana anak tersebut menonton film keras tersebut? Di sekolah, rumah teman, atau di rumahnya sendiri? Pengalaman anak yang ingin jadi hero akibat nonton film laga di masa lalu itu, telah mengendap ke dalam alam bawah sadarnya. Ketika emosinya naik, obsesi anak itu muncul kembali dari kedalaman jiwanya. Terjadilah ketegangan jiwa yang muncul terus-menerus, dan membuat anak itu semakin tegang gelisah. Akibatnya anak itu tak dapat mengendalikan dirinya lagi.  Bagaikan air bah keinginan melepaskan ketegangan jiwa itu menjebol akal sehatnya, dan mencari jalan keluar. Motivasi  dan  keinginannya untuk bertindak sebagai seorang hero  begitu kuat, tapi salah arah dan sasaran. Korban pun jatuh seketika, jadi korban yang tewas sia-sia. 

Sesungguhnya perilaku brutal dan sadis anak usia belia semacam itu, bisa menimpa siapa saja. Orang tua dan para guru  seyogyanya bisa mengambilnya jadi pelajaran berharga. Kini sudah banyak orang tua yang memahami, bahwa selain pranata sekolah sebagai tempat pembelajaran anak, orang tua tidak boleh mengaibaikan pranata keluarga sebagai tempat pembelajaran yang utama dan pertama. Keluarga adalah pranata istimewa bagi orang tua, terutama ibu,  untuk memberikan pendidikan budi pekerti, ahlakul karimah, moral, pendidikan watak, dan istilah sejenis lainnya yang melukiskan kualitas jiwa manusia yang  telah beradab..

Kartini dengan tegas, satu abad yang lalu sudah menyampaikan pendapatnya, bahwa wanita dan ibu adalah pendidik utama dan pertama yang harus berdiri di garis depan dalam memberikan pendidikan budi pekerti. Pendidikn budi pekerti bagi seorang anak, yang utama dan pertama, bukan ditangan laki-laki dan ayah. Bukan pula di sekolah. Tapi di rumah dan di tangan ibu. Bukan berarti ayah tidak perlu berperan. Dan sekolah tidak penting. Ayah tetap berperan tetapi cukup dalam posisi- meminjam istilah Ki Hadjar Dewantara,  tut wuri handayani. Dan sekalolah tetap penting.  Meminjam pandangan Kartini, orang tua dalam kasus di atas  kemungkinan telah salah dengan memanjakan dalam  mendidik anak, sehingga terjadi tragedi yang menghebohkan itu. Kartini melukiskan cita-citanya berupa  saran bagaimana cara mendidik seorang anak laki-laki maupun perempuan, sebagai berikut. 

“Ingin hatiku punya anak perempuan dan laki-laki yang akan kubentuk dan kudidik jadi manusia sepadan dengan kehenda hatiku. Pertama-tama akan kubuangkan ada kebiasaan yang buruk yang melebihkan anak laki-laki dari pada perempuan. Tidak usah kita herankan lagi, apa sebab nafsu laki-laki suka memikirkan dirinya sendiri saja, bila kita ingat, laki-laki itu  sejak masa kecilnya, sudah dilebih-lebihkan dari pada anak perempuan.  Dan semasa kanak-kanak, laki-laki sudah diajar merendahkan derajat perempuan. Bukankah acap kali kudengar seorang ibu berkata kepada anaknya laki-laki, bila dia jatuh lalu menangis, ‘cis anak laki-laki menangis tiada malu seperti anak peremppuan’ Anakku laki-laki maupun perempuan akan aku ajar supaya menghargai dan pandang memandang sama rata, makhluk yang sama, dan didikannya akan kusamakan benar. Yakni tentu saja masing-masing menurut kodrat kecakapannya.” 

Apa sebabnya perempuan sering disebut sebagai soko guru peradaban? Kartini, Pejuang emansiapasi  yang bercita-cita menjadi guru itu berkata, ”Bukan karena perempuan yang dipandang cakap untuk itu. Tetapi karena saya sendiri yakin sungguh-sungguh bahwa dari perempuan itu pun akan timbul pengaruh yang besar akibatnya dalam membaikkan dan memburukkan kehidupan. Dari wanitalah pertama-tama manusia menerima didikannya. Di haribanannya, anak itu belajar merasa, berpikir, berkata-kata. Dan tahulah saya bahwa pendidikan yang mula-mula itu, bukan tidak besar pengaruhnya bagi kehidupan manusia di kemudian harinya,” tulis Kartini pula.



Secara singkat dapat dikatakan bahwa, peran ibu dalam memajukan pendidikan budi pekerti bagi putra-putrinya sangatlah besar. Sebagai soko guru peradaban, pengaruhnya sungguh luar biasa, Pengaruh  seorang ibu kepada anak yang dikandungnya, dilahirkannya, disusuinya, lalu dididiknya dengan cinta dan kasih sayang.  Dari haribaannyalah akan lahir anak-anak berbudi pekerti luhur, berakhlakul karimah, ber watak mulia sebagai manusia berbudaya dan berkeadaban. Itulah cita-cita emansipasi wanita yang digagas dan diperjuangkan Kartini. Wallahualam.[Bandung,18-04-2017] Anwar Hadja, Guru SMA Tamansiswa Bandung.
 


Rabu, 22 Juni 2016

Memperingati Hari Pendidikan Nasional 2 Mei 2016 (02-Tamat)



Mengenang Masa Kanak-Kanak Ki Hadjar Dewantara Dari ELS Menuju STOVIA(02)


Bernard  Dahm menyebutkan bahwa Sukarno telah mengidentifikasikan dirinya, mula-mula dengan Adipati Karna. Bung Karno ketika kecil namanya sebenarnya adalah Kusno. Tetapi kemudian ayahnya, R.Sukemi merubah namya menjadi Karno, lengkapnya Sukarno, karena berharap anaknya itu kelak bisa meneladani Ksatria Awangga Adipati Karno yang cinta kepada tanah airnya dan tugas yang diembannya, sehingga memilih gugur dalam Perang Barata Yudha melawan adiknya sendiri Arjuna. Padahal, bila mau, Adipati Karno bisa menghindari kematiannnya bila saja dia mau bergabung dengan adik-adiknya, Keluarga  Pandawa.


Tetapi setelah remaja, Adipati Karna tidak lagi menjadi idola Bung Karno, karena Bung Karno mungkin menilai karakter Adipati Karna yang berperang di pihak Astina, tidak sejalan dengan aspirasi dan semangat nasionalismenya. Bung Karno mengidentifikasikan dirinya sebagai Bima yang selalu siap untuk melawan pemerintah Hindia Belanda yang diidentifikasikan dengan Astina. Dan bagi Bung Karno, perang Bharata Yudha melawan Belanda harus terjadi dan harus dimenangkan oleh para nasionalis Indonesia yang diidentifikasikannya sebagai Keluarga Pandawa. Dapat kita mengerti bahwa Bung Karno, seperti juga Ki Hadjar Dewantara dengan Tamansiswanya kelak, lebih suka menempuh jalan nonkooperatif dan non kompromi dalam melawan pemerintah Hindia Belanda.


Ksatria Wayang, Sumber Inspirasi Nasionalisme Ksatria Jawa

Sebenarnya tradisi para ksatria, bangsawan, dan para raja Jawa mengidentifikasikan dirinya dengan para ksatria dari dunia wayang dalam perjuangannya meraih kekuasaan, mengelola keuasaan, dan kelak dalam usaha merebut kemerdekaan dari penjajah Belanda, sudah berlangsung sejak para pujangga dan cendekiawan Jawa masa pra-Islam menerjemahkan kitab Mahabarata dan Ramayana ke dalam bahasa Jawa.


Bagi  orang Jawa, kisah-kisah dalam dunia wayang yang bersumber dari kedua kitab itu, telah menjadi semacam religi yang mendarah daging dan terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya sampai pada jaman munculnya kerajaan-kerajaan Islam di Jawa Tengah, bahkan sampai jaman kita sekarang ini.

Erlangga misalnya, ketika berjuang bersama Narotama untuk merebut kembali tahta mertuanya Darmawangsa yang hilang karena direbut Raja Wengker, telah mengidentifikasikan dirinya dengan Arjuna dalam kisah Arjuna Wiwaha. Raja Wengker yang akan ditaklukannya, diidentifikasikan sebagai Raja Niwatakawaca dari Kerajaan Ima-Imantaka. Sebagaimana Arjuna akhirnya dapat menaklukan musuhnya, Erlangga pun akhirnya dapat menaklukan Raja Wengker dan meraih kembali tahta mertuanya yang hilang dan dibangunlah Kerajaan Kahuripan.


Demikian pula ketika Raja Jayabaya dari Daha atau Kediri harus berperang dengan Jenggala, dia menganggap Daha atau Kediri adalah Pandawa dan Jenggala musuhnya adalah Kurawa yang harus dikalahkannya dalam perang Bharata Yudha. Raja Jayabaya berhasil mengalahkan Jenggala, sebagaimana Pandawa berhasil mengalahkan Kurawa. Raja Jayabaya kemudian menyatukan Daha dan Jenggala menjadi satu kerajaan, maka lahirlah Kerajaan Kediri yang mencapai puncak kejayaannya setelah dipersatukan oleh Jayabaya.


Agaknya sejak Jayabaya berhasil mewujudkan negara kesatuan  Daha-Jenggala dan berhasil membangun kerajaannya menuju negara yang makmur, sejahtera, dan berkelimpahan, maka sejak itulah ideologi persatuan dan kesatuan menjadi tema-tema yang diperjuangan para ksatria Jawa dan menjadi obsesi para priyayi dan bangsawan yang menggagas negara kebangsaan patriotik berbasis ideologi persatuan. Pada masa Kerajaan Islam, Sunan Kalijaga dan Sunan Murio juga telah memanfaatkan kisah-kisah dari dunia wayang sebagai salah satu media dakwah untuk menyebarkan agama Islam. Istana kraton Jawa, mulai dari Demak, Pajang, Mataram, Surakarta, Mangkunegaran, Yogyakarta dan Pakualaman, secara rutin menggelar pentas wayang.


Bahkan Pangeran Diponegoro  yang mengobarkan Perang Jawa (1825 – 1830 M), seperti halnya Erlangga, mengidentifikasikan dirinya dengan Arjuna. Sedang Jendral De Kock diidentifikasikan dengan Niwata Kawaca dalan kisah Arjuna Wiwaha. Hanya saja Perjuangan Erlangga berhasil, sedangkan perjuangan Diponegoro gagal.


Karena itu amat menarik juga meneliti sikap nasionalisme para priyayi dan bangsawan Jawa  dalam menilai dan mengidentifikasikan dirinya dalam Perang Jawa yang hampir saja membuat pemerintah Hindia Belanda nyaris bangkrut. Seperti kita ketahui saat Perang Jawa meletus (1825 M), para bangsawan dan priyayi dari kraton Jawa warisan Mataram itu terpecah menjadi dua, yakni kelompok yang berpihak kepada Pangeran Diponegoro dan kelompok yang berpihak pada kompeni. Anehnya masing-masing pihak mengidentifikasikan dirinya dengan ksatria dunia wayang dengan cara dan persepsinya sendiri-sendiri dan masing-masing pihak mengaku sebagai ksatria yang telah melaksanakan darmanya dengan benar.


Dalam perang Jawa itu, Kraton Surakarta perpihak kepada Belanda. Menurut Peter Carey, ahli sejarah Perang Jawa, Kraton Surakarta mengirimkan Ki Cakranegara, sebagai komandan pasukan Surakarta untuk membantu Belanda berperang melawan Diponegoro. Bagi Cakranegara, Diponegoro adalah Duryudono, karena Dipongoro ingin menjadi Raja di Tanah Jawa. Padahal di Tanah Jawa sudah ada rajanya yang sah yaitu pemerintah Hindia Belanda. Ki Cakranegara sendiri mengidentifikasikan dirinya denga Raden Setyaki, sedang Paku Buwono VI (1823- 1830 M), tempat Ki  Cakranegara mengabdi dianggapnya sebagai Prabu Kresna. Atasannya Kol. Cleerens, didentifikasikan sebagai Bima. Sedangkan Jendral De Kock, dianggapnya sebagai Yudistiro. Bagi Ki Cakranegara, Diponegoro adalah kurawa, sebab jika Diponegoro Pendawa, Diponegoro harus menang dalam perang. Faktanya Diponegoro dapat dikalahkan, karena itu mustahil Diponegoro adalah Pandawa. Sebab Pandawa tidak mungkin kalah dalam Perang Barata Yudha. Demikian pandangan Ki Cakranegara yang pro Belanda.


Usai Perang Jawa, Ki Cakranegara diangkat menjadi Bupati Purworejo secara turun temurun karena Belanda menganggap jasa Ki Cakranegara dalam Perang Jawa amat besar. Ki Cakranegara sendiri mengaggapnya, Kabupaten Purworejo adalah Kadipaten Lesanpura. Memang pada awalnya Kabupaten Purworejo merupakan wilayah Kraton Surakarta yang oleh Ki Cakrangara dianggapnya sebagai Kerajaan Dwarawati, yakni kerajan tempat ia mengabdi dan meniti karir di bidang birokrasi pemerintah Hindia Belanda.


Berbeda dengan Ki Cakranegara, Raja-raja Mangkunegara yang mengirimkan Legiun Mangkunegaran berperang membantu Belanda dalam Perang Jawa, mereka mengidentifikasikan dirinya dengan Kadipaten Awangga. Dengan demikian Raja-Raja Mangkunegara menyadari posisinya bahwa dia memang berperang memihak Kurawa yang dalam  Perang Jawa di wakili oleh Belanda.


Dalam serat Tri Pama, Mangkunegara IV, memuji tiga ksatria yang memiliki nilai-nilai pengabdian yang tinggi terhadap tugasnya, yakni Adipati Karna, Kumbokarna dan Sumantri. Bagi Mangkunegoro IV, ketiga satria itu adalah nasionalis teladan, karena gugur membela tanah airnya dan tugas yang diembannya, tidak peduli gusti dari mana pun asalnya yang telah memerintahnya. Karena Sang Gusti itu telah memberinya kesejahteraan dan kemakmuran bagi ketiga ksatria itu. Bagi ketiga ksatria pilihan Mangkunegara IV dalam Serat Tri Pama, Gusti mereka adalah Duryodana untuk Adipati Karna, Rahwana untuk Kumbokarna dan  Harjuna Sasrabahu untuk  Raden Sumantri.


Kini mari kita lihat bagaimana pandangan nasionalisme para ksatria Pakualaman dalam menghadapi Perang Jawa. Paku Alam I dengan Legiun Pakualamannya, terpaksa harus membatu Belanda dalam Perang Jawa melawan kemenakannya sendiri Pangeran Diponegoro. Sebagai menantu Adipati Kadipaten Madura, rupanya Paku Alam I telah mengidentifikasikan dirinya sebagai Raja Basudewa dari Kerajaan Mandura dalam dunia wayang. Memang ada kemiripan antara kata Madura dan Mandura. Mungkin karena adanya kemiripan itu, banyak bangsawan dan Raja-raja Surakarta dan Yogyakarta yang mengambil istri putri bangsawan dari Madura. Termasuk di antaranya adalah Pangeran Noto Kusumo yang kemudian menjadi Paku Alam I. Bagi Paku Alam I, berperang melawan Diponegoro adalah berperang melawan anak keponakannya sendiri. Karena itu, Paku Alam I menjalaninya dengan menanggung beban moral yang berat. Dapat dimengerti bila Paku Alam I melaksanakan perang hanya dengan setengah hati.


Berbeda dengan Ki Cakranegara yang menganggap Perang Jawa adalah Perang Bharata Yudha, Paku Alam  I menganggap Perang Jawa bukan perang Bharata Yuddha, karena itu Diponegoro kalah. Tetapi kekalahan itu bersifat sementara, sebab kelak pasti akan tiba masanya terjadi Perang Bharata Yudha, dan dalam perang itu para ksatria Jawa pasti akan dapat mengalahkan Belanda yang diidentifikasikannya sebagai Kurawa dengan Patih Sangkuni sebagai komandannya.  Bukankah seperti halnya Belanda yang adalah  orang asing yang telah menjadi gusti di tanah Jawa, Sangkuni juga seorang patih yang berasal dari negeri asing yang juga menjadi gusti di Hastina Pura, Kerajaan milik Pandawa ? Demikianlah Paku Alam I, membantu Belanda karena terpaksa, yaitu tidak mampu menolak perintah Gusti yang berasal dari tanah seberang lautan.


Kisah dari dunia wayang yang menjadi sumber inspirasi para nasionalis Indonesia di masa pergerakan, ternyata terus berlanjut setelah Indonsia Merdeka. Bung Karno, misalnya, yang mengidentifikasikan dirinya dengan Bima,  hampir secara rutin nanggap wayang di Istana Negara. Pak Harto  yang mengidentifikasikan dirinya dengan Semar, dan menamai SP 11 Maret 1966 M yang mengantarkan ke kursi kepresidennnya sebagai Super Semar(Surat Perintah 11 Maret), diam-diam gemar nonton wayang juga dan menjelang akhir masa jabatannya, mengundang dalang kondang Ki Manteb Sudarsono, mementaskan Lakon Rama Tambak. Mungkin itu semua dimaksudkan untuk menambak atau mencegah agar kekuasaan Presiden terlama RI itu tidak terputus di tengah jalan.


Tak Mengenal Kata Putusasa

Demikianlah Suwardi, sejak masa kanak-kanak sudah gemar menonton wayang kulit yang secara rutin di pentaskan di Pendopo Kadipaten Pakualaman yang tidak jauh dari rumah kediamannya. Dan seperti para ksatria Pakualaman yang lain Ki Hadjar Dewantara agaknya juga senantiasa mengidentifikasikan Kadipaten Pakualaman  sebagai Kadipaten Mandura. Dan tokoh idola Suwardi disamping Yudistira adalah Raden Narayana, yang kelak menjadi Batara Kresna, Raja Dwarawati, Raja Titisan Wisnu yang mempunyai tugas menegakkan tertib dan damai di dunia dan alam semesta.


Pada tahun 1904 M, Suwardi berhasil menyelesaikan studinya di ELS tepat waktu. Saat itu usianya sudah 15 tahun. Bila dihitung dalam kalender Jawa, kemungkinan sudah hampir mengakhiri windu ke dua dan akan memasuki windu ke-3. Masa kanak-kanak akan segera ditinggalkan dan  masa remaja atau masa satrio sebentar  lagi akan menyongsongnya.


Tidak banyak catatan yang diperoleh dari prestasinya saat belajar di ELS. Tetapi bisa menyelesaikan studi di ELS bagi Pribumi sudah merupakan prestasi yang langka. Bayangkan, betapa repotnya kehidupan anak priyayi  yang mengikuti pendidikan Barat. Di rumah dia harus bebicara bahasa Jawa, tetapi di sekolah harus mampu berbicara dalam bahasa Belanda, karena bahasa Belanda merupakan bahasa pengantar di ELS.  Sekalipun repot,  tamatan ELS, memiliki posisi yang menjanjikan di tengah-tengah masyarakat yang didominasi oleh sistem kolonial. Setidak-tidaknya lapangan pekerjaan bagi mereka, sudah tersedia dan terbuka lebar, sekalipun bagi Pribumi paling banter hanya sebagai pegawai rendahan.


Suwardi adalah putra bangsawan ningrat, cucu seorang raja pula. Jika harus bekerja sebagai Klein Ambtenar, tentu dia tidak mau. Maka satu-satunya jalan adalah melanjutkan pendidikannya ke tingkat yang lebih tinggi. Masuk HBS jelas tidak mungkin, mengingat kondisi keuangan ayahnya. Maka jalan yang mudah baginya adalah memasuki sekolah-sekolah pemerintah Hindia Belanda yang memberikan bea siswa. Pilihan yang ada adalah Kweekschool atau sekolah guru, OSVIA, sekolah Pamong Praja, dan STOVIA, sekolah dokter Jawa di Batavia. Jika masuk OSVIA seperti kakaknya RM.Suryopranoto, harus pergi ke Magelang. Sedang bila ke STOVIA, harus ke Batavia. Tetapi bila ke KweekSchool, cukup di Yogya saja, sebab saat itu di Yogya sudah mulai pula didirikan Kweekschool atau sekolah guru.


Akhirnya Suwardi memilih masuk Kweekschool yang rupanya sesuai dengan bakat dan minatnya. Ternyata Suwardi diterima. Kweekschool adalah sekolah dengan memberikan beasiswa juga. Uang saku yang diterimanya 10 gulden per bulan yang berarti sama besarnya dengan gaji seorang pegawai magang pamong praja pemerintah Hindia Belanda yang gajihnya per bulan hanya 10 gulden. Lama pendiikan 3 tahun dan bila lulus akan ditempatkan oleh pemerintah dan akan mendapat gaji 75 gulden per bulan, suatu gajih yang sama besarnya dengan gajih seorang asisten wedana. Bila dia tekun menjalani profesi sebagai guru, berpeluang bisa naik pangkat sampai mantri guru, dengan gaji 150 gulden per  bulan. Suatu gajih yang sama dengan gajih seorang wedana dan dokter Jawa yang baru lulus. Karena itu dengan masuk Kweekschool sebenarnya masa depan Suwardi sebagai priyai dan bangsawan ningrat sudah terjamin.


Tetapi setelah belajar hampir satu tahun tiba-tibab dr. Wahidin Sudiro Husodo, dokter pribadi Keluarga Kadipaten Pakualaman, datang kepada keluarga KPH. Suryaningrat dan menawarkan bea siswa masuk STOVIA. Suwardi menjadi bimbang, dihadapkan pada dua pilihan. Tetapi akhirnya Suwardi memilih meninggalkan Kweekschool dan menerima tawaran bea siswa STOVIA yang lebih bergengsi itu.


Dokter Wahidin Sudiro Husodo adalah seorang dokter yang bersahabat cukp erat dengan Pangeran Noto Dirojo, putra Paku Alam V. Usia mereka tidak berbeda jauh, hanya terpaut satu tahun. Dokter Wahidin lahir tahun 1857 M, sedang sahabatnya Pangeran Noto Dirojo kelahiran tahun 1858 M. Dokter Wahidin adalah  alumni STOVIA tahun 1876 M. Sejak menjadi dokter Keluarga Pakualaman, hubungan mereka berdua semakin erat. Mereka berdua merasa prihatin dengan masa depan pemuda Jawa, bila tidak segera menyesuaikan diri dengan arus modernisasi yang dengan deras mulai menyerbu Pulau Jawa. Sedangkan Pangeran Noto Dirojo  adalah alumni HBS yang berpikiran maju. Dia sudah melihat bahwa satu-satunya jalan untuk menyelamatkan masa depan putra-putrinya hanyalah dengan memasuki sekolah-sekolah Barat. Maka lima putra Pangeran Noto Dirjo semuanya menempuh pendidikan di Negeri Belanda. Mereka adalah RM.Noto Suroto, RM.Noto Kusworo, RM.Noto Diningrat, RM.Sewojo, R.Ajeng Karlinah. Rajeng Karlinah adalah wanita Indonesia pertama yang berhasil lulus pendidikan guru dan meraih Akte Guru Eropa.

Pribumi Hindia Belanda yang mampu menyelesaikan pendidikannya di sekolah-sekolah Belanda, dapat dipastikan adalah anak-anak yang memiliki kecerdasan luar biasa. Sebab Sekolah-sekolah Belanda di Eropa adalah sekolah yang sangat ketat, berkualitas, dan diakui di Eropa Daratan sebagai sekolah dengan kualitas standar Internasional. Sebagai alumnus HBS Semarang, Pangeran Noto Dirojo juga pandai sejumlah bahasa asing Eropa, selain bahasa Belanda, khususnya Bahasa Inggris. Ketika Raja Siam berkunjung ke Hindia Belanda, Pangeran Noto Dirojolah satu-satunya Pangeran yang bisa bercakap-cakap secara langsung dengan Raja Siam yang hanya bisa bercakap-cakap dengan menggunanakan bahasa Inggris. Bahkan kemampuan berbahasa Inggris Pangeran Noto Dirojo mampu mengungguli  orang-orang Belanda yang duduk dalam pemerintahan. Perlu diketahui bahwa kurikulum HBS, disamping menggunakan penvgantar bahas Belanda dan memberikan pelajaran bahasa Belanda, juga mengajarkan bahasa-bahasa Eropa lainnya seperti bahasa Inggris, Perancis, dan Jerman.  


Ketika Dokter Wahidin menggagas Dana Bea Siswa untuk membiayai pendidikan pemuda-pemuda Jawa, maka Pangeran Noto Dirojolahlah yang pertama kali mendukung dan menyetujuinya. Bisa jadi Pangeran Noto Dirojo pula yang membujuk Suwardi agar mengambil kesempatan yang ditawarkan oleh Dokter Wahidin itu. Tanpa harus berpikir lama Suwardi segera mengambilan keputusan cepat. Meninggalkan Kweek School yang dimasukinya belum genap satu tahun. Rupanya Pengaruh Pangeran Noto Dirojo dan Dokter Wahidin Sudiro Husodo cukup kuat pada dirinya. Kelak ketika Suwardi tinggal di Negeri Belanda dan menjadi Pemimpin Redaktur Hindia Putra, Suwardi berturut-turut mengenag keduanya dengan menulis riwayat hidup Dokter Wahidin Sudiro Husodo dan Pangeran Noto Dirojo dalam majalah yang dipimpinnya itu.


Pilihan masuk STOVIA bagi Suwardi sebenarnya banyak memberikan keuntungan, bukan hanya finasial dan status, tetapi juga memperluas cakrawala dari wawasan kebangsaannya. Dari segi finansial, uang bea siswa yang akan diterima Suwardi sebagai siswa STOVIA adalah 20 gulden per bulan, lebih banyak dari siswa KweekSchool yang hanya 10 gulden per bulan. Dengan uang bea siswa 20 gulden per bulan para Pelajar STOVIA sudah berani menikah dan membangun rumah tangga. Bila lulus dan ditempatkan gajih pertama yang akan diterimanya adalah 150 gulden per bulan, yang berarti sama besarnya dengan gajih seorang Wedana. Dari segi status, pendidikan bahasa Belanda di STOVIA memilki standar tinggi yang mampu menyamai standar HBS. Dengan demikian lulusan STOVIA, kemampuan berbahasa Belandanya tidak kalah dengan para alumus HBS. Hanya STOVIA satu-satunya sekolah di Hindia Belanda yang mampu menyamai HBS dalam standar kualitas pendidikan bahasa Belanda. Dari segi cakrawala wawasan kebangsaan, jelas para siswa di STOVIA  akan bergabung dengan anak-anak dari pelbagai suku bangsa yang ada di Hindia Belanda, sehingga interaksi di antara mereka lebih intensif dan wawasan kebangsaannya lebih meningkat.


Atas dasar pertimbangan seperti tersebut di atas, akhirnya pada tahun 1905 M, Suwardi memutuskan keluar dari Kweekschool dan berangkat ke Batavia memasuki STOVIA. Sebuah institusi pendidikan kolonial yang kelak melahirkan banyak kaum nasionalis berbobot yang akan mengguncang hegemoni dan dominasi Gusti Asing di tanah Hindia. Sayang studinya di STOVIA tidak berhasil diselesaikan oleh Suwardi Suryaningrat. Panggilan karir dibidang Jurnalistik dan memperjuangkan kemerdekaan bagi Pribumi bangsanya yang terjajah, serta kesibukannya berorganisasi, menjadi faktor utama yang menghambat Suwardi menyelesaikan studinya di STOVIA. Tetapi, Suwardi tak pernah menyerah kepada setiap kegagalan yang dihadapinya. Sebab kegagalan bagi Suwardi Suryaningrat adalah guru yang paling bijaksana. Takdir akhirnya memang mengembalikan Ki Hadjar Dewantara pada karir awalnya, sebagai Pendidik bagi anak-anak Pribumi bangsanya yang terjajah. Tidak berjuang sebagai dokter. Tetapi berjuang sebagai Pendidik dan Guru Bangsa.[Tammat]


Memperingati Hari Hari Pendidikan Nasional 2 Mei 2016 (01)



Mengenang Masa Kanak-Kanak Ki Hadjar Dewantara, dari ELS-STOVIA(01)

Jangan abaikan masa kanak-kanak. Sebab masa kanak-kanak sering sangat berpengaruh pada watak, karakter, dan karir seseorang di masa depan.  Lalu, bagaimana sih masa kanak-kanak Ki Hadjar Dewantara yang tanggal kelahirannya 2 Mei  selalu  kita peringati sebagai Hari Pendidikan Nasional? Ternyata dunia para ksatria dalam kisah wayang kulit yang bersumber dari Mahabarata dan Ramayana cukup berpengaruh kepada para ksatria Jawa ketika mereka berjuang untuk meraih kemerdekaan bangsanya dari penjajahan Belanda. Tidak hanya Ki Hadjar Dewantara. Juga Bung Karno dan para pejuang bangsa ksatria Jawa lainnya. Jika tokoh Bima menjadi tokoh idola Bung Karno, tokoh Kresna dan Yudistira menjadi tokoh wayang idola Ki Hadjar Dewantara. Selain itu, ketika masih kanak-kanak, ternyata Ki Hadjar Dewantara juga mempunyai nama yang unik. Sipakah nama unik Ki Hadjar Dewantara pada masa kanak-kanak ?


Nama Unik Ki Hadjar Dewantara Pada Masa Kanak-Kanak

Pada hari Kamis Legi, bertepatan dengan tanggal 2- Ramadhan 1309 Hijriyah, bertepatan dengan tanggal 2- Pasa -1811 Jawa dan bertepatan pula dengan tanggal 2 – Mei -1889  Masehi, Raden Ayu Sandiah istri KPH. Suryaningrat, dengan selamat melahirkan seorang bayi laki-laki yang mungil. BRAyu KPH. Suryaningrat atau Raden Ayu Sandiah tentu amat gembira karena mampu mempersembahkan seorang bayi laki-laki kepada suaminya. Kegembiran yang sama juga nampak pada wajah KPH. Suryaningrat saat menyambut kehadiran calon ksatria Pakualaman yang lahir dengan selamat itu. Ayah yang tengah bebahagia itu, memberi nama putranya yang baru lahir, Suwardi Suryaningrat. 


BS.Dewantara, putra Ki Hadjar Dewantara  dalam  bukunya,” Ki Hadjar Dewantara- Ayahku”, menceriterakan bahwa KPH. Suryaningrat, ayah Ki Hajar Dewantara, disamping memberi nama resmi kepada putranya yang baru lahir itu Suwardi Suryaningrat, juga masih memberi nama yang tidak resmi, yakni nama panggilan sehari-hari. Dalam tradisi Jawa disebut paraban. Konon nama tidak resmi atau nama panggilan Ki Hadjar Dewantara pada waktu masih kanak-kanak adalah Raden Mas Jemblung Jaya Trunagati( BS.Dewantara: 1989 : 27 ). Sebuah nama yang indah dan mengandung harapan. Lebih-lebih nama itu hasil karya dua orang yakni KPH. Suryaningrat, ayahnya sendiri dan sahabat ayahnya, Kiai Sulaeman, seorang ulama dari Prambanan. Nama Jemblung dan Jaya berasal dari ayahnya sendiri, sedang Trunogati, berasal dari Kiai Sulaeman.


Konon saat putra ke-6 KPH. Suryaningrat itu dilahirkan, bayi itu agak kecil. Bobotnya kurang dari 3 kg, perutnya sedikit buncit, Tetapi suara tangisannya amat lembut. Karena itu, mula-mula KPH.Suryaningrat agak ragu-ragu, dapatkah bayi mungil itu kelak menjadi salah seorang dari  ksatria Pakualaman yang akan dapat mikul duwur mendhem jero ayah ibunya dan keluarga Pakualaman?  Karena perut bayi itu agak buncit, maka ayahnya memberi nama panggilan Jemblung. Tentu saja hanyalah sebuah nama olok-olokan atau paraban, karena KPH. Suryaningrat memang gemar berkelakar. 


Tetapi  Kiai Sulaeman berbisik kepada sahabatnya itu, ”Dimas jangan cemas. Dan berbahagialah. Suara anak ini amat lembut. Kelak akan mampu menjadi pembicara yang baik yang nasihatnya akan diikuti oleh banyak orang. Perutnya yang sedikit buncit itu menandakan dia kelak akan dapat menampung banyak ilmu. Khususnya ilmu-ilmu yang berkaitan dengan keagamaan, kebudayaan, dan pendidikan”. 


KPH. Suryaningrat mengangguk-anggukan kepalanya dan wajahnya menjadi cerah. Lalu Kiai Sulaiman menambahkan nama Trunogati. Truno artinya pemuda atau ksatria. Gati artinya cerdas, cepat tanggap, dan berani. “Trunogati artinya ksatria yang cerdas, cepat tanggap dan berani dari Pakualaman” jelas Kiai Sulaiman menjelaskan arti nama yang telah dipilihnya itu.


“Amiin!.Amiin!”, komentar KPH. Suryaningrat, saat mendengar tambahan nama dari sahabatnya itu, ”Kalau begitu aku tambahkan lagi dengan nama Jaya, sehingga lengkaplah nama panggilan tidak resmi anakku ini, Jemblung Jaya Trunogati.”


Kiyai Soleh dan tamu-tamu yang hadir pada acara bayen itu tertawa gembira dan puas. Mereka berharap  bayi laki-laki yang mungil itu kelak benar-benar akan menjadi seorang pemuda yang berani, berilmu dan bisa menjunjung tinggi keluhuran keluarganya, kerabat Kadipaten Pakualaman, masyarakatnya, dan bangsanya. Tentu hanya orang-orang terdekat saja yang diijinkan memanggil nama tidak resmi putra KPH.Suryaningrat itu. Menurut BS.Dewantara, pengasuh setia Pangeran Muda itu memanggilnya dengan panggilan sayang, Den Mas Jemblung.


Memang dalam tradisi kebudayaan Jawa, seseorang bisa memiliki banyak nama. Di samping nama resmi dan nama tidak resmi, seorang priyayi dan bangsawan Jawa sering pula masih mempunyai nama pada saat dia bersusia dua windu, empat windu, dan lima windu. Ada nama seorang ksatria pada saat dia berumur dua windu, yakni nama saat dia memasuki masa remaja, yang dalam tradisi Jawa disebut memasuki periode remaja awal atau periode satrio. Nama saat berusia empat windu adalah nama saat dia mulai memasuki masa dewasa awal atau periode  Satrio Pinandito. Dan akhirnya nama saat dia memasuki usia lima windu, yaitu saat dia memasuki usia dewasa mantap atau periode Pandito Sinatrio.


Memang tidak setiap ksatria Jawa secara konsisten merubah-rubah dan menambah-nambah namanya berdasarkan tahapan periode dari usia kejiwaan seseorang, tetapi secara rata-rata hampir para ksatria Jawa mengikuti tradisi tersebut.  Hal ini nampak jelas dalam dunia wayang. Seorang ksatria, bisa memiliki lebih dari sepuluh nama yang menggambarkan karakteristik dan pribadi sang tokoh. Misalnya, tokoh Gatutkaca. Dia juga bernama Purbaya, Krincingwesi, Jabang Tetuka, dan lainnya lagi.   


Dalam tradisi kebudayaan Jawa, acara bayen adalah tradisi keluarga, khususnya keluarga para priyayi, dalam menyambut kehadiran seorang bayi yang senantiasa diharapkan oleh kedua orang tuanya dan keluarganya. Tetapi tradisi ini di kalangan priyayi dan bangsawan kraton pada saat itu, telah berkembang sedemikian rupa, sehingga sering-sering dalam pelaksanaannya telah menyimpang dari tujuan semula yakni syukur nikmat. Misalnya, acara bayen dilaksanakan dengan mengundang tetangga untuk bergadang pada malam hari. Dalam bahasa Jawa disebut lek-lekan, dari kata melek, yang artinya tidak tidur semalam suntuk.

Dalam acara lek-lekan ini, tuan rumah harus menyediakan makanan kecil, minuman, umumnya kopi, dan terkadang masih ditambah makanan berat. Acara lek-lekan tidak hanya berlangsung semalam, kadang-kadang sampai  tujuh malam. Bahkan tidak jarang dalam acara bayen itu, dengan dalih untuk meghilangkan kantuk mereka menggelar permaianan judi. Dan ujung-ujungnya ada pula yang minum-minuman keras, umumnya ciu, sampai mabok. Tentu saja dari sudut tradisi acara bayen itu bukan hanya memberatkan bagi tuan rumah, tetapi juga telah menyimpang jauh dari tujuan semula yakni tirakatan dan syukuran.


Mungkin karena pangaruh Kiai Soleh, ketika itu KPH. Suryaningrat berani merubah tradisi yang sudah mengakar di kalangan priyayi dan bangsawan tinggi itu.  Tradisi bayen disederhanakan. Tidak boleh ada acara judi dan mabok-mabokan. Lama acara juga tidak sampai tujuh malam. Kiai Sulaiman mengisinya dengan pengajian dan tausiyah. Kemudian dibacakan kisah-kisah dari kitab sastra Jawa maupun dari sastra Islam. Dari sastra Jawa biasanya kisah-kisah dari dunia pewayangan, seperti lahirnya Bratasena, Kresna, Gatotkaca, Abimanyu, Bambang Irawan, atau lahirnya Parikesit apabila bayinya laki-laki. Bila bayi yang dilahirkan perempuan biasanya kisah yang dibacakan adalah kisah Surtikanti, Banowati, Sembadra, Pergiwa dan Pergiwati. Sedang dari sastra Arab, umumnya kisah para nabi. Yang populer antara lain adalah kisah Nabi Yusuf, bila bayinya laki-laki. Dan kisah Siti Fatimah, bila bayinya perempuan. 


Karena KPH. Suryaningrat adalah seorang bangsawan yang santri, maka kitab yang dibacakan pada acara bayen lahirnya Ki Hadjar Dewantara adalah Serat Ambiya Yusuf dan Serat Rama. Kedua kitab itu telah tersedia di Perpustakaan Pakualaman. Serat Ambiya Yusuf digubah oleh Paku Alam III, sedang Serat Rama digubah olelh Paku Alam I. Dengan demikian KPH. Suryaningrat telah melakukan reformasi  tradisi bayen di lingkungan Pakualaman. Hal-hal yang merugikan dan tidak bermanfaat dari tradisi yang ada ditinggalkan. Tetapi tradisi yang masih baik dan bermanfaat, tetap dipertahankan.


Ketika Ki Hadjar Dewantara lahir, kondisi keuangan Kadipaten Pakualaman sudah mulai membaik. Saat itu Paku Alam V tengah menduduki tahta Kadipaten Pakualaman dibantu putranya Pangeran Noto Dirojo. Walapun begitu, keluarga KHP. Suryaningrat  dari segi penghasilan ternyata tidak termasuk golongan bangsawan tinggi. Dia hanyalah bangsawan menengah. Hal ini bisa dilihat dari tunjangan yang diterimanya sebagai putra Paku Alam III, yang hanya 250 gulden per bulan. Seorang bangsawan tinggi, minimal berpenghasilan 400 gulden perbulan. Pada saat itu, hanya priyayi dan bangsawan yang berpenghasilan 400 gulden per bulan yang dapat diterima di HBS. Maka wajar bila tidak ada satu pun putra-putra KPH. Suryaningrat yang bisa masuk HBS. Apalagi putra KPH.Suryaningrat banyak. Menurut BS. Dewantara, KPH. Suryaningrat mempunyai 10 orang putra dan putrai yaitu :

(1)   RM.Suryasudirjo, (2) RM.Suryopranoto, (3) RM.Suryasiswara, (4) R.Ayu Bintang, (5) R.Ayu Suryapratiknya, (6) RM.Suwardi (Ki Hadjar Dewantara), (7) KRMT. Suryaningrat, (8) RM.Suwarman Suryaningrat, (9) RM.Suryaadiputra, (10) RM.Harun Al Rasid.


Dengan demikian, Ki Hadjar Dewantara adalah putra no 6 dari KPH. Suryaningrat. Pada saat Ki Hadjar Dewantara lahir, sudah ada lima orang kakaknya yang mau tidak mau menyedot penghasilan KPH. Suryaningrat untuk keperluan sekolahnya. Kakak Ki Hadjar Dewantara, RM. Suryoparanoto misalnya, setamat sekolah dasar Belanda ELS, tidak melanjutkan ke HBS, tetapi melanjutkan ke OSVIA di Magelang karena OSVIA memberikan bea siswa, sehingga meringankan beban keuangan orang tuanya. Setamat OSVIA, dia melanjutkan ke Sekolah Pertanian di Bogor, kemudian bekerja sebagai pegawai Bumi Putra pada Dinas Pertanian Pemerintah Hiindia Belanda. Terakhir dinas di Wonosobo (1914 ), kemudian keluar dan menerjunkan dirinya di lapangan pergerakan. Jika sepak terjang RM.Suryopranoto mirip Raden Kokrosono dalam dunia wayang, maka adiknya, RM.Suwardi Suryaningrat kelak mirip Raden Noroyono atau Prabu Kresna dari Dwarawati.


Demikianlah Ki Hadjar Dewantara kecil atau RM. Suwardi Suryaningrat, menjalani masa kanak-kanaknya dalam suasana keuangan keluarga yang serba pas-pasan. Selain kakaknya banyak, dia pun punya adik yang cukup banyak juga, yang semuanya tentu membutuhkan biaya untuk keperluan pendidikannya.Namun demikian, kondisi keuangan keluarga ternyata tidak menutup jalan bagi keluarga KPH. Suryaningrat untuk memperkaya lingkungan keluarganya dengan ilmu, kebudayan, kesenian, filsafat, dan wawasan keagamaan. Pendeknya KPH.Surayaningrat beserta BRAyu Sandiah, berusaha mewujudkan rumah tangganya sebagai institusi pendidikan yang pertama bagi putra putrinya.



Masuk Sekolah Dasar Belanda atau ELS.

Suwardi kecil masuk ELS , Sekolah Dasar Belanda, pada usia 7 tahun. Pada saat itu masuk ELS bagi Pribumi Hindia Belanda bukan perkara yang mudah. Sekalipun anak priyayi atau bangsawan tinggi, jika ingin masuk ELS harus melalui test lebih dulu. Test itu adalah test berhitung dan bahasa Belanda. Sebab ELS adalah sekolah dengan pengantar bahasa Belanda. Jika tidak lulus test, tak akan diterima di ELS yang lama pendidikannya 7 tahun itu. Sudah barang tentu, para priyayi dan bangsawan yang ingin menyekolahkan anaknya ke ELS, harus mendidik putranya sedini mungkin kemampuan dalam bahasa Belanda. Sekalipun masuk ELS sulit, tetapi diburu juga oleh keluarga para priyayi. Sebab bagi lulusan ELS pada jaman itu, sudah tersedia lapangan pekerjaan yaitu dapat diterima sebagai Klein Ambtenaar, yakni pegawai rendahan pemerintah Hindia Belanda.


Walaupun hanya pegawai rendahan tetapi telah memberikan gengsi tersendiri bagi Pribumi, karena jabatan itu telah meningkatkan status mereka menjadi lebih terhormat di mata masyarakat Pribumi masa itu. Padahal jenjang tertinggi yang dapat di capai oleh pegawai rendahan lulusan ELS hanyalah kepala pegawai magang dengan gaji hanya 10 gulden per bulan. Dan jenjang karir itu harus ditempuhnya selama bertahun-tahun. Namun anak-anak mereka memang memiliki peluang untuk menjadi seorang asisten wedana bahkan wedana. Sangat wajar sebenarnya bila anak para priyayi Pribumi dan bangsawan berlomba-lomba untuk masuk ELS. Di samping itu lulusan ELS juga dapat meneruskan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi seperti HBS, OSVIA, Kweek School dan STOVIA. Di antara  sekolah-sekolah menengah tersebut, HBS adalah sekolah yang paling bergengsi. Anak-anak bupati dan raja Jawa umumnya masuk HBS, karena Belanda hanya akan mengangkat anak-anak Bupati lulusan HBS, sebagai calon pengganti jabatan ayahnya di kelak kemudian hari.


Suatu kenyataan bahwa Suwardi dengan mudah masuk ELS, menunjukkan bahwa Suwardi sudah menguasai bahasa Belanda dengan baik sebelum usia 7 tahun. ELS tempat Suwardi bersekolah, bukan ELS  klas satu, tetapi hanya ELS klas tiga yang terletak di Bintaran. Di ELS ini, tidak banyak anak-anak Belandanya. Sebagian besar adalah anak-anak Ambon yang bapaknya bekerja sebagai tentara Belanda. Kalau toh ada anak Belandanya, kebanyakan anak-anak Belanda dari orang tuanya yang hanya pegawai rendahan.


Sekalipun Suwardi hanya bisa masuk ELS Pinggiran, Suwardi tak pernah berkecil hati. Ia pun tak pernah merasa rendah diri. Bahkan sekalipun badannya kecil, jika ada sinyo Belanda atau Ambon yang berani menghinanya, Suwardi berani melawannya. Keberaniannya melawan sinyo-sinyo Belanda yang berani mengejeknya, merupakan benih nasionalisme yang diam-diam bersemi dalam benaknya. Jelas sekali bahwa benih-benih nasionalisme, nilai-nilai moral perjuangan dan nilai-nilai religiusitas dan wawaaan kebudayaan Suwardi, sudah tertempa sejak kecil dan itu semua tidak hanya didapat dari lingkungan pendidikan formalnya di ELS, tetapi juga di lingkungan  rumah tangga dan keluarganya, yang merupakan institusi pendikan pertamanya .


KPH. Suryaningrat rupanya memang secara sadar menjadikan lingkungan keluarga dan lingkungan Kadipaten Pakualaman sebagai lingkungan yang kondusif dan nyaman untuk menyemaikan dan mengembangkan nilai-nilai religiusitas, nilai-nilai moral, budi pekerti, dan nilai-nilai nasinolisme bagi putra-putrinya. Baginya, ELS dan sekolah formal lainnya, hanyalah tempat untuk mendidik dan mengembangkan intelektualitas dan kecerdasan. Sedang pendidkan moral, budi pekerti, nilai-nilai religiusitas dan kebudayaan, memang tetap harus menjadi tanggung jawab keluarga.


Agaknya pengalaman pribadi Suwardi masa kecil  yang telah mengoptimalkan lingkungan keluarganya sebagai salah satu sumber untuk mengembangkan sikap, watak dan kepribadiannya, kelak menjadi sumber ide dan inspirasi serta dasar baginya untuk mengembangkan teorinya mengenai tiga pusat pendidikan atau  tri sentra lingkungan pendidikan, yakni lingkungan keluarga, lingkungan sekolah dan lingkungan masyarakat. Memang lingkungan keluarga KPH. Suryaningrat sangat kondusif sebagai pusat pendidikan keluarga. Bahkan corak nasionalisme Ki Hadjar Dewantara sebagain besar justru terbentuk secara lebih dini di dalam lingkungan keluarganya di Pura Pakualaman.


Rumah keluarga KPH. Suryaningrat dan keluarga GPH. Sasraningrat, berdampingan dan berada di sisi timur Istana Pakualaman. Ayah Suwardi  adalah seorang empu di bidang seni gending Jawa, ahli sastra Jawa, penulis, filosof dan mistikus Islam Kejawen Aliran Sunan Kalijaga. Di rumah Suwardi, tersedia kitab-kitab sastra Jawa gubahan ayahnya. Di samping tempat tinggalnya, berdiri rumah  pamannya, yakni adik  ayahnya GPH. Sasraningrat. Dia adalah juga seorang penulis seperti kakaknya dan memiliki keahlian  dalam bidang sastra Jawa. Jelaslah bahwa lingkungan Suwardi kecil adalah lingkungan dari para cendekiawan Jawa yang akrab dengan dunia buku, dunia baca dan dunia tulis menulis.


Tidak heran bahwa bakatnya di bidang jurnalistik dan tulis menulis  yang ada pada diri Suwardi, berkembang juga. Tampaknya sudah sejak ELS, Suwardi sudah menggeluti sastra dan kebudayan Jawa. Wajar jika saat usianya 12 tahun, Suwardi sudah pandai menulis sajak tentang Satria Penengah Pendawa, Yudistira. Memang dua tokoh wayang idola Suwardi saat kecil adalah Yudistiro dan Narayana atau Kresna yang titisan Wisnu.


Hampir semua bangsawan dan priyayi Jawa adalah penggemar berat kisah-kisah ksatria dari dunia wayang. Tidak kecuali para ksatria dari Kadipaten Pakualaman. Hampir dapat dipastikan kisah-kisah kepahlawanan para ksatria dalam kitab Mahabarata dan Ramayana telah menjadi sumber insiparisi sikap, wasasan dan gagasan nasionalisme patriotik para bangsawan dan priyayi yang telah melahirkan sejumlah perlawanan kepada kesewenang-wenangan pemerintah penjajah Belanda, baik secara diam-diam, maupun melalui aksi protes sampai perjuangan secara fisik untuk mengakhiri penjajahan. Para penulis barat yang mendalami sejarah pergerakan nasinal Indonsia, seperti Ben Anderson, Kahin, Peter Carey Benard Dahm dan sarjana Jepang seperti Takashi Shiraisi menyebutkan bahwa jejak-jejak dan gagasan para nasionalis Indonesia, khususnya Jawa,  banyak yang dilhami dari kisah-kisah perjuangan para ksatria dalam dunia wayang.[Bersambung]