Entri yang Diunggulkan

Kahyangan Suralaya, Tempat Tinggal Para Dewa

Legenda adalah kisah tentang orang, kejadian, atau peristiwa yang dibuat berdasarkan fantasi dengan maksud untuk menimbulkan kekaguman...

Tampilkan postingan dengan label Hari Pendidikan Nasional. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hari Pendidikan Nasional. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 30 Juli 2016

(2) Realitas Sejarah, Tanggal 2 Mei Sebagai Hari Pendidikan Nasional (02-Tammat)





Tetapi tiba-tiba menjelang Peringatan Hari Pendidikan tanggal 2 Mei 2016, muncul sebuah tulisan dalam sebuah media sosial yang menggugat tanggal tanggal 2 Mei sebagai Hari Pendidikan Nasional. Judul tulisannya adalah,” KH.Ahmad Dahlan, Lebih Pantas Menjadi Bapak Pendidikan Nasional.”  Sang Penulis, Zahra Adonara, setelah melakukan tinjauan secara singkat riwayat Ki Hadjar Dewantara dengan Tamansiswanya, segera melakukan tinjauan riwayat KH.Ahmad Dahlan dengan sekolah Muhammadiyahnya.


“Akan tetapi yang patut dicatat, jauh-jauh hari sebelum Ki Hajar Dewantara mendirikan Taman Siswa, seorang putra bangsa, yang juga sama-sama berasal dari Yogyakarta telah memiliki inisiatif untuk melakukan perubahan melalui pendidikan,” tulis Sang Penulis. “Adalah KH. Ahmad Dahlan, ulama besar yang menjadi pendiri Muhammadiyah. Sebelum Muhammadiyah berdiri, tepatnya 1 Desember 1911, KH.Ahmad Dahlan mendirikan sekolah Madrasah Ibtidaiyah Diniyah Islamiyah. Ketika diresmikan, sekolah itu mempunyai 29 orang siswa dan enam bulan kemudian dilaporkan bahwa terdapat 62 orang siswa yang belajar di sekolah itu. Tahun 1913, didirikan sekolah Muhammadiyah di Karangkajen. Tahun 1915, didirikan sekolah di Lempuyangan, sekolah Muhammadiyah bergerak se-abad lebih melintasi zaman, kini ribuan sekolah Muhammadiyah telah berdiri di seluruh penjuru Indonesia, bahkan hingga ke manca negara. Dari perbandingan usia,  KH.Ahmad Dahlan melalui Muhammadiyah satu dekade lebih dulu daripada Taman Siswa dalam berjuang mengentaskan kegelapan melalui pendidikan.”


Sang Penulis melanjutkan tulisannya dengan melakukan perbandingan antara sekolah Tamansiswa dengan Muhammadiyah sbb,” Selain perbandingan usia, KH.Ahmad Dahlan melaui Muhammadiyah bila dibandingkan dengan Taman Siswa jauh memiliki efek yang lebih besar. Sekolah-sekolah Muhammadiyah telah menjangkau ke semua jenjang, melebar kesegala lapisan dan telah meluluskan jutaan alumni. Bandingkan dengan Taman Siswa yang justru semakin hari semakin kurang berkembang, data dari Kompas menyebutkan, Pada Tahun 2012 jumlah sekolah perguruan Taman Siswa tinggal 30 %nya saja, banyak sekolah yang gulung tikar. Kiprah Muhammadiyah dalam bidang pendidikan tentu tak ada yang meragukan.”

Sang Penulis mengakhiri tulisannya dengan melakukan gugatan sbb,” Mengapa kemudian KH.Ahmad Dahlan tidak ditetapkan sebagai Bapak Pendidikan? Pertanyaan ini seolah menjadi sejarah hitam yang selalu membungkam eksistensti Tokoh-Tokoh Islam. Seperti halnya mengapa kemudian Kartini yang ditetapkan sebagai tokoh rujukan kaum perempuan? padahal banyak tokoh-tokoh perempuan lain, khususnya yang memiliki identitas Islam lebih kuat, seperti Rasuna Said, Nyi Walidah, Cut Nyak Dien  yang tak kalah hebatnya. Sekali lagi, sejarah selalu diciptakan oleh para pemenang, mereka yang berkuasa, walaupun begitu kita tidak akan pernah lupa dengan jasa KH. Ahmad Dahlan, Bapak pendidikan yang sesungguhnya.”


Ki Hadjar Dewantara dan KH.Ahmad Dahlan.

Betapa pentingnya kita belajar sejarah. Dan, sebenarnya tidak tepat membanding-bandingkan, apalagi mengukur bobot sumbangan para Pejuang Bangsa. Baik Ki Hadjar Dewantara maupun KH.Ahmad Dahlan adalah sama-sama Pahlawan Nasional yang telah sama-sama berjasa memperjuangkan kemerdekaan bangsa Indonesia melalui bidangnya masing-masing.  Di bidang Pendidikan, Ki Hadjar Dewantara melalui sekolah Tamansiswa telah memperjuangkan sistem Pendidikan Nasional sebagai suatu antitese terhadap Sistem Pendidikan Kolonial. Ki Hadjar Dewantara dengan Tamansiswa konsisten melakukan penentangan sisten Pendidikan Kolonial yang dijalankan Pemerintah Hindia Belanda antara lain dengan menempuh jalan non koperasi, menolak subsidi dari Pemerintah Hindia Belanda, dan menolak sebagai sekolah berbadan hukum sehingga dicap oleh Pemerintah Hindia Belanda sebagai sekolah Liar. Sekalipun dicap sebagai sekolah liar, tidak berbadan hukum, dan menolak subsidi Pemerintah Hindia Belanda, Ki Hadjar Dewantara mampu membangun sekolah Tamansiswa yang pada saat itu kualitasnya setara dengan sekolah-sekolah Pemerintah. Hal ini mudah dimengerti sebab Ki Hadjar Dewantara memang mengantongi ijazah akta guru Eropa, sehingga dinilai lebih dari kompeten untuk mewujudkan sekolah yang kualitasnya tidak kalah dengan ELS, HIS, MULO maupun AMS milik Pemerintah Hindia Belanda. Mudah dimengerti bila dalam waktu singkat sekolah Tamansiswa menyebar ke seluruh Hindia Belanda. Antara tahun 1930 – 1942 justru merupakan puncak prestasi Tamansiswa yang berada dibawah asuhan langsung Ki Hadja Dewantara.


Tentu berbeda dengan sekolah-sekolah Muhammadiyah yang menempuh jalan koperasi, berbadan hukum, dan tentu saja menerima subsidi dari Pemerintah Hindia Belanda. Namun demikian gagasan pembaharuan pendidikan yang dibawakan KH.Ahmad Dahlan dengan Ki Hadjar  Dewantara dibidang pendidikan banyak persamaannya. Baik KH.Ahmad Dahlan maupun Ki Hadjar Dewantara sama-sama menggunakan model sekolah barat dalam melakukan pembaharuan pendidikan. Bedanya  Ki Hadjar Dewantara memperkaya dan memadukan sekolah model barat dengan unsur-unsur pendidikan yang terkandung dalam kebudayaan nasional yang bersumber dari tradisi etos pendidikan para priyayi dan ksatria yang dididik dilingkungan kraton dan kabupaten. Sedang KH.Ahmad Dahlan memadukan sekolah model barat dengan unsur-unsur pendidikan yang terkandung dalam ajaran Islam dan dunia pesantren.  Perbedaan lain, Ki Hadjar Dewantara meniti karir dengan menempuh pendidikan formal model barat mulai dari ELS, Kweekshool, Stovia dan Akta guru Negeri Belanda. Sedangkan KH.Ahmad Dahlan mengenyam pendidikan model pesantren dan tidak pernah memasuki sekolah model barat milih pemerintah Hindia Belanda. 


Dapat dimengerti bila pada awalnya untuk mendirikan Muhammadiyah dan sekolah-sekolah Muhammadiyah, KH.Ahmad Dahlan banyak mendapat bantuan dari tokoh-tokoh guru Budi Utomo dan Keluarga Pakualaman. KH.Ahmad Dahlan juga bergaul erat dengan KPH Suryaningrat, ayah Ki Hadjar Dewantara, kenal dekat dengan RM.Suryo Pranoto, kakak  Ki Hadjar Dewantara. Tentu saja KH.Ahmad Dahlan kenal baik dengan Pangeran Noto Dirojo, putra Paku Alam V yang sempat menjadi Ketua Budi utomo. Bahkan RM.Suryo Pranoto bersama-sama dengan Fachrudin, tokoh Muhammadiyah tangan kanan KH.Ahmad Dahlan, bersama-sama menjadi pemimpin SI (Serkat Islam ) Cabang Yogyakarta yang sama-sama gigih menentang komunisme. Akhirnya ketika Suwardi harus menjalani Pembuangan ke Negeri Belanda pada tahun 1913, Muhammadiyah bukan hanya ikut memberikan bantuan dana. Tetapi KH.Ahmad Dahlan dan Istrinya datang secara khusus menemui Suwardi Suryaningrat untuk memberikan dorongan dan doa. Semua itu menunjukkan kedekatan KH Ahmad Dahlan dengan Keluarga Paku Alaman dan Ki Hadjar Dewantara.

Baik Ki Hadjar Dewantara maupun KH.Ahmad Dahlan, telah sama-sama berjuang untuk mencapai kemerdekaan, sesuai dengan keahliannya masing-masing. Ki Hadjar Dewantara di bidang Pendidikan dan Kebudayaan Nasional. KH.Ahmad Dahlam di bidang Pendidikan Islam dan Kebudayaan Islam dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kewajiban generasi penerus untuk mengisi kemerdekaan dengan melanjutkan cita-cita para pejuang bangsa.Wallahualam.(2- 05-2016)  

(1) Realitas Sejarah, Tanggal 2 Mei Sebagai Hari Pendidikan Nasional (01)






Menyambut Hari Pendidikan Nasioanl 2 Mei 2016 muncul artikel menarik  di Kompasiana. Judulnya, “Sudah Tepatkan Tanggal 2 Mei ditetapkan sebagai Hari Pendidikan Nasional?”  Penulisnya adalah Siti Marfuah. Dan rupanya merupakan artikel lama yang pernah diposting pada tanggal 5 Mei 2013, tetapi karena masih relevan diunggah lagi untuk menyambut Hari Pendidikan Nasional 2 Mei 2016.


Tetapi pembaca jangan buru-buru menuduh penulisnya sedang melakukan gugatan terhadap tanggal 2 Mei sebagai Hari Pendidikan Nasional. Yang terjadi justru sebaliknya. Sang Penulis tidak melakukan gugatan. Sang Penulis justru melakukan pembelaan. Diakhir tulisannya Sang Penulis menyimpulkan sebagai berikut,” Jadi, apakah sudah tepat Hardiknas diperingati pada tanggal 2 Mei? Saya rasa tepat, jika mengingat seberapa besar kontribusi Ki Hadjar Dewantara dalam pendidikan nasional di Indonesia.’


Dalam artikelnya itu dia menjelaskan bahwa Hari Pendidikan Nasional telah ditetapkan berdasarkan Keputusan Presiden No. 316  tanggal 16 Desember 1959.  Tetapi, baru efektip diperingati secara nasional pada jaman Pak Harto. “Meskipun ditetapkan pada tahun 1959, secara efektif peringatan hari pendidikan nasional baru dilaksanakan tahun 1967 setelah Pak Harto menjabat presiden,” tulisnya.

Selanjutnya beliau menulis, “Saat itulah pengakuan atas jasa besar Ki Hadjar Dewantara dalam meletakkan dasar-dasar sistem pendidikan nasional dinyatakan oleh Pak Harto. Meskipun dalam keputusan presiden tidak secara tegas menyebutkan dasar-dasar penetepannya, akan tetapi secara tersirat yang dimaksud dengan tanggal 2 Mei ialah hari kelahiran Ki Hadjar Dewantara. Dapat dipastikan bahwa ada suatu alasan mengapa tanggal lahir Ki Hadjar Dewantara ditetapkan sebagai Hari Pendidikan Nasional. Alasan tersebut tentu berkaitan dengan jasa-jasa Ki Hajar Dewantara sebagai Bapak Pendidikan Nasional. Raden Mas Soewardi Soerjaningrat (Suwardi Suryaningrat), sejak 1922 ( seharusnya sejak 1928, pen) menjadi Ki Hadjar Dewantara lahir di Yogyakarta pada tanggal 2 Mei 1889 dan meninggal dunia pada tanggal 26 April 1959.”

“Kancah perjuangan Ki Hadjar Dewantara meliputi dunia politik, jurnalistik, dan pendidikan. Pada dunia politik dan jurnalistik, beliau lebih dikenal sebagai R.M. Suwardi Suryaningrat. Karena keanggotaannya dalam Indische Partij dan aktivitasnya yang menetang usaha-usaha perayaan 100 tahun kemerdekaan Belanda atas jajahan Perancis dengan tulisannya yang berjudul "Seandainya Aku Seorang Belanda" (judul asli: "Als ik een Nederlander was"), maka ia diasingkan ke negeri Belanda bersama Dr. Tjipto Mangunkusumo dan E.F.E. Douwes Dekker (Danudirdjo Setyabudhi) pada tahun 1913. Dalam pengasingan pada tahun 1913-1919 tersebut, Beliau aktif dalam organisasi para pelajar asal Indonesia yaitu Indische Vereeniging (Perhimpunan Hindia). Di sinilah Beliau merintis cita-citanya memajukan kaum pribumi dengan belajar ilmu pendidikan hingga memperoleh Europeesche Akte, suatu ijazah pendidikan yang bergengsi. Dalam studinya ini, Beliau terpikat pada ide-ide sejumlah tokoh pendidikan Barat, seperti Froebel dan Montessori. Beliau juga mengadakan orientasi tentang Santi Ni Ketan ciptaan Tagore di India sebagai pergerakan pendidikan India.”

Diakhir tulisannya Sang Penulis menyimpulkan sbb,” Jadi, apakah sudah tepat Hardiknas diperingati pada tanggal 2 Mei? Saya rasa tepat, jika mengingat seberapa besar kontribusi Ki Hadjar Dewantara dalam pendidikan nasional di Indonesia.’

Pendapat penulis artikel itu, setelah mengumpulkan fakta-fakta perjuangan Ki Hadjar Dewantara sampai tiba pada kesimpulan, bahwa Tanggal 2 Mei memang tepat sebagai Hari Pendidikan Nasional. Tentu saja pendapat penulis itu mewakili arus utama pendapat publik dalam suatu negara yang menganut paham demokrasi.

Gugatan Terhadap Tanggal 2 Mei Pada Awal Orde Baru.

Tetapi sejarah penetapan tanggal 2 Mei sebagai Hari Pendidikan Nsaional, memang tidak sepi dari gugatan pihak-pihak yang belum memahami sepak terjang Ki Hadjar Dewara dalam memperjuangkan Pendidikan Nasional bagi bangsanya yang saat itu menjadi bangsa pribumi terjajah.

Gugatan terhadap tanggal 2 Mei sebagai Hari Pendidikan Nasional, misalnya, pernah dilancarkan organisasi besar PGRI pada awal-awal Orde Baru tahun 1966- 1967. Rupanya PGRI saat itu ingin memanfaatkan momentum politik Orde Baru yang sedang mencabut dan merevisi  sejumlah Undang-Undang, Kepres maupun PP yang berbau Orde Lama. Keputusan Presiden No. 316 tanggal 16 Desember 1959 yang menetapkan Tanggal 2 Mei sebagai Hari Pendidikan Nasional, dipandang oleh PGRI  saat itu sebagai Kepres produk Orde Lama yang harus dicabut karena tidak sesuai dengan semangat Orde Baru. Terjadilah polemik hebat di media massa antara Majelis Luhur Tamansiswa yang mencoba mempertahankan Kepres no 316  dengan PB PGRI yang menghendaki pencabutan Kepres No. 316. PB.PGRI berdalih bahwa tokoh Pendidikan yang memperjuangkan Pendidikan Nasional bukan hanya Ki Hadjar  Dewantara. Tetapi ada juga tokoh pejuang bangsa yang lain, seperti Moh. Syafei dari Kayu Tanam, Otto Iskandar Dinata yang mendirikan Paguyuban Pasundan pada tahun 1914 dengan puluhan sekolah dan ribuan murid. Lalu KH.Ahmad Dahlan yang mendirikan Muhammadiyah dengan ribuan sekolah dan ratusan ribu murid. Kemudian KH.Hasyim Asyari, Pendiri NU dengan ribuan pendidikan berbasis pesantren. Disebutkan juga bahwa bukan hanya Tamansiswa yang berdasarkan pendidikan nasional. Perguruan Rakyat yang didirikan di Jakarta pada jaman Penjajahan, juga sudah berdasarkan pendidikan nasional.

PGRI mengusulkan  agar tanggal 25 November yang merupakan Hari Lahir PGRI ditetapkan pemerintah sebagai Hari Pendidikan Nasional menggantikan tanggal 2 Mei yang merupakan Hari Lahir Ki Hadjar Dewantara. Tetapi akhirnya polemik berhenti dengan sendirinya setelah Pak Harto turun tangan dan menegaskan bahwa Kepres no. 316 tanggal 16 Desember 1959 yang menetapkan tanggal 2 Mei 1959 sebagai Hari Pendidikan Nasional sudah tepat. Karenanya Pak Harto tidak akan mencabutnya. Bahkan pada awal Orde Baru, Pak Harto mempercayakan Menteri Pendidikan dari tokoh Tamansiswa. Tercatat tiga menteri pendidikan pada awal Orde Baru berasal dari tokoh Tamansiswa antara lain, Ki Moh.Said, Ki Sarino Mangun Pranoto, dan Mashuri SH. Sejak itu tak ada lagi kelompok masyarakat yang menggugat Kepres No. 316 itu. Bahkan PGRI pun akhirnya mengalihkan usulannya dengan memperjuangkan adanya Hari Guru. Akhirnya tanggal 25 Nopember memang ditetapkan pemerintah sebagai Hari Guru yang setiap tahun diperingati oleh para guru.

Pada awal Reformasi, tiga politis dari PAN yang merupakan tokoh Muhammadiyah menduduki Menteri Pendidikan yaitu Yahya A.Muhaimin, Malik Fajar, dan Bambang Sudibyo. Pada masa ketiga menteri itu, Hari Pendidikan Nasional tetap diperingati dan tak ada gugatan terhadap Kepres No.316 tanggal 16 Desember 1959 yang menetapkan tanggal 2 Mei sebagai Hari Pendidikan Nasional.

 Tokoh-tokoh Pendidikan dari PAN yang berlatar belakang Muhammadiyah itu, sadar akan fakta dan realitas sejarah, bahwa penetapan tanggal 2 Mei sebagai Hari Pendidikan Nasional, adalah sudah tepat, benar, dan tidak perlu dipersoalkan lagi. Mempersoalkannya dan menggugatnya, adalah kontra produktif. "Jangn melupakan sejarah," kata Bung Karno memberi nasihat. Sebuah nasihat yang bijak dan tepat dari seorang Negarawan dan Bapak Bangsa. (bersambung).

(Bersambung)


Artikel Lanjutan Klik dibawah ini:
https://wwwtamansiswa.blogspot.co.id/2016/07/realitas-sejarah-tanggal-2-mei-sebagai_30.html 

Jumat, 29 Juli 2016

Pidato Mendikbud Anies Baswedan Menyambut Hardiknas 2 Mei 2016


Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
Salam sejahtera untuk kita semua,
Hari ini kita kembali merayakan Hari Pendidikan Nasional. Mari kita panjatkan puji dan puja ke hadirat Allah SWT, Tuhan Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, atas ijin, rahmat dan karunia-Nya kita dapat kembali berkumpul merayakan semangat, capaian dan cita-cita pendidikan dan kebudayaan bangsa.

Kepada para pegiat pendidikan di seluruh penjuru Nusantara, ijinkan saya menyampaikan apresiasi atas peran aktifnya dalam mencerdaskan saudara sebangsa. Kepada Ibu dan Bapak pendidik di seluruh jenjang, yang tak lelah menyalurkan inspirasi, membuka jalan pencerahan, dan membangkitkan asa setiap insan yang dididiknya agar menjadi manusia yang berkarakter, berpengetahuan dan memberikan faedah bagi sekitarnya, ijinkan saya atas nama pemerintah menghaturkan rasa hormat mendalam.

Ibu, Bapak dan Hadirin yang mulia,
Hari Pendidikan Nasional kita rayakan sebagai hari kesadaran tentang pentingnya kualitas manusia. Presiden Jokowi menggariskan bahwa Indonesia akan menjadi bangsa yang disegani dunia dan akan berhasil dalam berbagai kompetisi era global jika tinggi kualitas manusianya. manusia yang terdidik dan tercerahkan adalah kunci kemajuan bangsa. Segala capaian yang kita raih sebagai individu maupun sebagai bangsa kolektif tak lepas dari persinggungan dengan pendidikan. Mutu dan jenjang pendidikan berdampak besar pada ruang kesempatan untuk maju dan sejahtera. Maka memastikan setiap manusia Indonesia mendapatkan akses pendidikan yang bermutu sepanjang hidupnya sama dengan memastikan kejayaan dan keberlangsungan bangsa.

Dunia saat ini adalah dunia yang sangat berbeda dengan dunia beberapa dekade lalu. Perubahan terjadi begitu cepat dalam skala eksponensial yang tidak pernah ditemui dalam sejarah umat manusia sebelumnya. Revolusi teknologi menjadi pendorong lompatan perubahan yang akan berpengaruh pada cara kita hidup, cara kita bekerja,

dan tentu saja, cara kita belajar. Meramalkan masa depan menjadi semakin sulit karena ketidakpastian perubahan yang ada. Namun yang harus kita pastikan kepada anak-anak kita adalah bahwa kita memberikan dukungan sepenuhnya kepada mereka untuk menyiapkan diri meraih kesempatan yang terpampang di hadapannya.

Salah satu dukungan yang perlu kita berikan pada anak-anak Indonesia adalah memastikan bahwa apa yang mereka pelajari saat ini adalah apa yang memang mereka butuhkan untuk menjawab tantangan jamannya. Keterampilan utuh yang dibutuhkan oleh anak-anak Indonesia di abad 21 ini mencakup tiga komponen yaitu kualitas karakter, kemampuan literasi, dan kompetensi.

Karakter terdiri dari dua bagian. Pertama, karakter moral, sesuatu yang sering kita bicarakan. Karaker moral itu antara lain adalah nilai Pancasila, keimanan, ketakwaan, intergitas, kejujuran, keadilan, empati, rasa welas asih, sopan santun. 

Yang kedua dan tak kalah pentingnya adalah karakter kinerja. Di antara karakter kinerja adalah kerja keras, ulet, tangguh, rasa ingin tahu, inisiatif, gigih, kemampuan beradaptasi, dan kepemimpinan. Kita ingin anak-anak Indonesia menumbuhkan kedua bagian karakter ini secara seimbang. Kita tak ingin anak-anak Indonesia menjadi anak yang jujur tapi malas, atau rajin tapi culas. Keseimbangan karakter baik ini akan menjadi pemandunya dalam menghadapi lingkungan perubahan yang begitu cepat.

Literasi dasar menjadi komponen kemampuan abad 21 yang perlu kita perhatikan berikutnya. Literasi dasar memungkinkan anak-anak meraih ilmu dan kemampuan yang lebih tinggi serta menerapkannya kepada kehidupan hariannya. Bila selama ini kita berfokus pada literasi baca-tulis dan berhitung yang masih harus kita perkuat, maka kini kita perlu pula memperhatikan literasi sains, literasi teknologi, literasi finansial dan literasi budaya.

Terakhir dan tak kalah pentingnya adalah komponen kompetensi. Abad 21 menuntut anak-anak Indonesia mampu menghadapi masalah-masalah yang kompleks dan tidak terstruktur. Maka mereka membutuhkan kompetensi kemampuan kreativitas, kemampuan berpikir kritis dan memecahkan masalah, kemampuan komunikasi serta kemampuan kolaborasi.

Ibu, Bapak, dan Hadirin yang mulia,
Setiap anak lahir sebagai pembelajar, tumbuh sebagai pembelajar. Kita semua menyaksikan sendiri betapa anak-anak terlahir dengan rasa ingin tahu yang besar dan keberanian untuk mencoba. Proses belajarnya didapatkan melalui permainan dan petualangan. Lalu saat ia mulai melangkah masuk ke sekolah, ia mulai berhadapan dengan struktur dan berbagai peraturan sebagai bagian dari sebuah model masyarakat mini. Struktur dan berbagai peraturan yang ia hadapi ini dapat mengarahkan mereka terus menjadi pembelajar, atau justru sebaliknya, meredupkan hasrat belajarnya.

Adalah tugas kita semua untuk memastikan binar keingintahuan di mata setiap anak Indonesia, serta api semangat berkarya di dalam dirinya tidak akan padam. Adalah tugas kita memberikan ruang bagi anak-anak Indonesia untuk berkontribusi, memajukan dirinya, memajukan masyarakatnya, memajukan kebudayaan bangsanya. Rasa percaya dari orang dewasa kepada anak-anak untuk berkarya dan ikut membawa kebudayaan kita terus bergerak melangkah maju adalah kunci kemajuan negara.

Ibu, Bapak dan Hadirin yang berbahagia,
Hari Pendidikan Nasional ini kita rayakan karena kita termasuk di antara yang sudah merasakan dampaknya. Maka pada bulan Mei ini, di mana Hari Pendidikan Nasional terletak, ayo kita ikut bergerak, ikut terlibat dalam memperluas dampak pendidikan terhadap saudara-saudara sebangsa yang belum sepenuhnya merasakan kesempatan itu. Karena itulah pada tahun ini kita memilih tema “Nyalakan Pelita, Terangkan Cita-cita” sebagai tema keriaan Hari Pendidikan Nasional. Kita ingin pendidikan benar-benar berperan sebagai pelita bagi setiap anak Indonesia yang akan membuatnya bisa melihat peluang, mendorong kemajuan, menumbuhkan karakter, dan memberikan kejernihan dalam menata dan menyiapkan masa depannya.

Mari kita perluas keriaan pendidikan dan kebudayaan selama sebulan ke depan. Kita bayar balik apa yang telah kita dapatkan dari pendidikan, kita gelorakan semangat bergerak untuk pendidikan, dan kita teruskan ikhtiar bersama ini.

Kepada semua yang telah merasakan manfaat pendidikan dan di bulan pendidikan ini, sapalah para pendidik kita dulu. Tanyakan kabarnya, ucapkan terima kasih dan tunjukkan apreasiasi pada mereka, para pendidik dan pejuang pendidikan. Lalu mari sama-sama kita tetapkan bahwa ikhtiar memajukan pendidikan akan kita lanjutkan dan kembangkan.

Selamat Hari Pendidikan Nasional,
Selamat merayakan dan memeriahkan bulan pendidikan dan kebudayaan.
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Jakarta, 2 Mei 2016

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan
Republik Indonesia.
Anies Baswedan,Ph.D